Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Melihat Plengkung saluran air peninggalan Belanda di kota Magelang

 MAGELANG JATENG - Di Kota Magelang terdapat plengkung yang di atasnya merupakan saluran air memanjang. Bangunan itu adalah peninggalan Belanda yang hingga kini masih berfungsi.

Saluran air yang memanjang dan membelah kota ini dibangun Belanda untuk memenuhi kebutuhan air. Adapun saluran air ini panjangnya 6,5 km mengalirkan air dari Kali Manggis dan berakhir di Kampung Jagoan, Kecamatan Magelang Selatan.



Adapun saluran air ini disebut dengan fly river atau aqua duct. Posisi saluran air ini berada di gundukan tanah yang memanjang dan ada juga yang memotong perlintasan jalan. Untuk yang memotong perlintasan jalan ini dibuat plengkung.


Plengkung ini di Kota Magelang ada tiga meliputi di Jalan Piere Tendean dibangun pada tahun 1883 dikenal dengan sebutan plengkung lama. Kemudian di Jalan Daha/Tengkon (1883), sedangkan yang ketiga di Jalan Ade Irma Suryani (1920), yang dikenal dengan sebutan plengkung baru.


Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, mengatakan salah satu keunikan di Kota Magelang adalah tentang aqua duct. Aqua duct, merupakan saluran air di atas jalan.


Salah satu keunikan di Kota Magelang adalah tentang aqua duct. Aqua duct itu, saluran air di atas jalan. Awal pembangunan ini sebenarnya karena Kota Magelang yang sangat minim dengan sumber daya air yang kebetulan posisinya diapit oleh Sungai Progo di barat dan Sungai Elo di timur sehingga posisi Kota Magelang itu lebih tinggi dari sungai itu," kata Bagus kepada wartawan, Jumat (29/1/2021).


Bagus menuturkan, pemerintah Belanda membangun saluran air yang pertama tahun 1857 dengan membendung Sungai Elo di wilayah Gunungsaren, Secang, Kabupaten Magelang. Kemudian karena kebutuhan air semakin meningkat, pemerintah membangun lagi Bendung Pleret dan Badran.


"Pemerintah Belanda yang pertama membuat saluran air pada tahun 1857 dengan membendung Sungai Elo di wilayah Gunungsaren Secang. Jadi membuat saluran air pada tahun 1857 yang bisa untuk mengairi sekitar 600 bahu. Kemudian karena kebutuhan air semakin meningkat akhirnya Belanda melakukan penambahan debit air dengan cara membendung Sungai Elo yang ada di timur Payaman, dengan Bendung Pleret," ujarnya.


Perihal keberadaan plengkung tersebut, Bagus menuturkan, di Kota Magelang ada tiga plengkung yang dibangun. Dari ketiga plengkung tersebut, ada cerita menarik khusus pembangunan plengkung baru tahun 1920 yang berada Jalan Ade Irma Suryani (Badaan). Awalnya, plengkung baru belum berlubang, namun karena Belanda membangun perluasan tangsi militer, kemudian agar memudahkan akses jalan dibuat plengkung tersebut.


Di Kota Magelang ada tiga plengkung, yang paling tua plengkung lama Jalan Piere Tendean, ada lagi plengkung Tengkon, itu juga sezaman dengan plengkung Jalan Piere Tendean. Yang plengkung baru di Jalan Ade Irma Suryani (Badaan) itu tahun 1920," ujarnya.


Plengkung Badaan, itu baru. Ada cerita menarik, sekalipun belum menemukan sumber primer, tetapi masih analisa saja berdasarkan beberapa penuturan. Dulunya, plengkung baru itu belum berlubang masih tertutup, suatu ketika tahun 1920 pemerintah Belanda untuk memenuhi kebutuhan perluasan tangsi militer membuat kompleks perumahan baru untuk tentara di Badaan. Untuk itu, membuat akses lebih mudah, maka yang dulu tanah gundukan tertutup dibuatlah jalan berupa plengkung itu sekitar tahun 1920," tutur Bagus.


Kemudian untuk plengkung lama, Bagus menyayangkan, pada sekitar tahun 2010 dilakukan pemasangan batu lapis sehingga angka tahun 1883 hilang. Penambahan batu lapis tersebut dinilai menghilangkan keasliannya dan autentiknya.

"Pada tahun tahun 2010 dipasang batu lapis, sebenarnya tambahan, saat itu saya melihat betul di atasnya ada tahun 1883. Saat itu, sebenarnya tidak keropos, bahkan masih bagus kondisinya, cuma jujur saja, saya sangat menyayangkan malah dikasih batu tempel, selain mengurangi keasliannya juga autentik seharusnya tetap dipertahankan," ujarnya.


Pihaknya menyampaikan, jika di Yogya ada plengkung sebagai benteng pertahanan yang di atasnya untuk penjagaan. Kemudian di Magelang juga ada plengkung yang berbeda fungsinya.


Kalau di Yogya kan sebagai benteng pertahanan di atasnya untuk penjagaan, di atasnya bukan saluran air, sama namanya plengkung, tapi fungsi berbeda. Meskipun pada era perang kemerdekaan ini (plengkung) juga berfungsi sebagai benteng pertahanan kalau kita lihat dari posisi sini di timur plengkung ini kan kawasan militer Belanda," kata dia.


Bagus menambahkan, di pinggir saluran air tersebut pada tahun 2010 dibuat untuk area jogging track. Keberadaan jogging track ini bisa dimanfaatkan warga masyarakat.


"Pembangunan area jogging track sekitar tahun 2016, kebetulan saya juga terlibat dalam rencana pembuatan master plan. Ini adalah salah satu upaya kalau kita lihat dalam UU Cagar Budaya No 10 tahun 2011 kan disebutkan untuk melestarikan beberapa tahapan yang pertama perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan. Nah ini masuk ke dalam sebenarnya lebih ke pemanfaatan ketika ada jogging track karena sebelumnya kawasan di atas tidak terawat, ketika jogging track masyarakat bisa memanfaatkan sebagai tempat olahraga, refreshing dan sebagainya," tuturnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, Sugeng Priyadi, mengatakan bangunan tiga plengkung tersebut tercatat sebagai cagar budaya sejak tahun 2010.

"Plengkung ketiga-tiganya tercatat sebagai cagar budaya sejak tahun 2010, meskipun belum ada SK-nya," kata Sugeng dalam pesan singkat.

Pembangunan plengkung yang di atasnya ada saluran air, kata Sugeng, bertujuan untuk saluran irigasi dan lainnya. Kemudian, plengkung tersebut sebagai jalan tembus penghubung supaya lebih mudah.


Setahu saya, itu (plengkung) sengaja dibangun kolonial. Sungai di atasnya tujuannya untuk menggelontorkan irigasi dan lainnya. Plengkung sebagai jalan tembus penghubung supaya lebih mudah," ujarnya.


Salah satu warga Kota Magelang, Widias, menambahkan, keberadaan plengkung tersebut sampai sekarang masih dimanfaatkan dan berfungsi. Jika saat turun hujan, ada warga yang sekadar berteduh sebentar di lokasi tersebut.


"Tiga plengkung yang ada masih berfungsi dan bermanfaat. Uniknya kalau turun hujan terkadang dipakai berteduh baik pejalan kaki atau pengendara sepeda motor, ngiyup sebentar untuk pakai mantel," ujar dia.


Setelah dibangun jalur jogging track tersebut, kata dia, warga masyarakat bisa memanfaatkan untuk jogging maupun refreshing dengan menyusuri kawasan tersebut.


"Keberadaan jogging track yang ada di pinggir saluran air untuk bermanfaat untuk olahraga," imbuhnya.


Sumber; detik.com

Posting Komentar untuk "Melihat Plengkung saluran air peninggalan Belanda di kota Magelang"