-->

Penelitian temukan struktur batu diduga permukiman kuno di Magelang

 MAGELANG JATENG - Struktur kuno berupa batu bata yang berlokasi tak jauh dari Candi Pawon, Magelang, Jawa Tengah diduga merupakan permukiman era Mataram Hindu. Balai Konservasi Borobudur (BKB) juga menemukan sejumlah keramik dan gerabah saat proses ekskavasi lanjutan di titik tersebut.

Penemuan perkampungan kuno ini berawal dari kegiatan ekskavasi lanjutan di lokasi penemuan batu bata kuno. Titik lokasi perkampungan kuno ini sekitar 160 meter dari sisi tenggara Candi Pawon, dan sekitar 30 meter dari Sungai Progo.



Ini adalah ekskavasi lanjutan dari bulan Desember kemarin. Kita menemukan adanya struktur bata yang masih menyambung dan ada beberapa batuan bata yang ada di kotak tersebut," kata Pamong Budaya Ahli Madya BKB, Yudi Suhartono saat ditemui di lokasi ekskavasi, Magelang, Selasa (2/1/2021).


Yudi yang juga Koordinator Pemanfaatan BKB mengatakan pihaknya mulanya menemukan struktur batu bata saat kegiatan ekskavasi. Struktur batu bata itu ternyata membentuk semacam ruang-ruang dan menyambung.


"Kemarin kita buka sekitar 18 kotak dan ternyata setelah kita buka menemukan struktur bata yang luar biasa. Ini membentuk semacam ruang-ruang. Kemudian juga ada di belakangnya struktur bata yang di kanan-kirinya menggunakan border batu. Kita juga menemukan adanya temuan lepas, temuan arkeologis yaitu terbentuk satu keramik," urainya.


Perkampungan kuno ini diduga merupakan permukiman para biksu. Hal ini dikuatkan dengan penemuan biji tasbih. Selain itu, juga ditemukan pecahan gerabah dan keramik pada masa Dinasti Tang sekitar abad ke-9 atau 10 Masehi.


"Pecahan keramik yang kami lihat dari dinasti Tang sekitar Abad ke-9 dan ke-10. Temuan keramik ini sama dengan temuan keramik yang ada di Borobudur dan sama dengan temuan yang di Liyangan (Temanggung). Permukiman masa Mataram kuno," sambung Yudi.


Yudi mengatakan pihaknya juga menemukan pecahan gerabah. Saat ini pecahan keramik maupun gerabah itu akan diteliti dan direkonstruksi. 


"Kami menemukan juga gerabah-gerabah. Pecahan gerabah itu yang sekarang yang sedang kami rekonstruksi bentuknya. Ada satu yang bisa kita rekonstruksi. Temuan gerabah ini juga sama dengan gerabah yang ada di Borobudur, temuan-temuan pada tahun 1970-an, sama dengan temuan yang ada yang di Liyangan. Kemudian, temuan sebuah manik-manik warna hijau dari batuan kasedon yang di tengahnya berlubang," beber Yudi.


Dia menduga permukiman itu terkait dengan pariwena atau kamar biksu dalam sebuah vihara. Namun, untuk memastikan hal itu pihaknya perlu penelitian lebih lanjut.


"Temuan ini berjarak 160 meter ke arah Tenggara dari Candi Pawon, dan berjarak sekitar 30 meter dari Sungai Progo. Bagi kami arkeolog ini penting. Setelah itu, kami coba diskusi dengan beberapa ahli. Dugaan pertama mungkin ini adalah semacam pariwena atau kamar-kamar biksu dalam sebuah vihara. Tapi itu masih dugaan awal, masih kita selidiki lebih lanjut," ujar Yudi.


Posisinya di Tenggara, kalau kita bisa buka semua mungkin akan lebih besar lagi. Ini kita baru bukaan awal. Yang pasti ini adalah sebuah permukiman. Permukiman pada masa Mataram Kuno, sekitar abad ke-8 sampai 10 M. Mungkin semasa dengan Borobudur," sambungnya.


Yudi belum mau bicara banyak soal dugaan situs itu diduga bagian dari vihara. Pihaknya menegaskan masih memerlukan pendalaman dan penelitian.


"Kita masih menduga ke arah situ. Apakah ini sebuah bagian dari vihara-vihara atau kamar-kamar biksu. Kita masih menduga dan belum bisa menyimpulkan lebih lanjut karena kita belum menemukan hal itu. Kesimpulan sementara yang pasti, inilah permukiman buddhis. Karena dulu sempat ditemukan stupika sebelumnya," terang Yudi.


"Kemarin juga ditemukan ada bilik kecil yang dugaan ahli itu sebuah tempat untuk bersemedi khusus," pungkasnya.


Sumber: detik.com