Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kekeliruan Memperbolehkan Menyusui Seseorang Yang Telah Baliq Untuk Menjadikannya Mahram. Ini Penjelasannya.

Kekeliruan Membolehkan Menyusui Seseorang Yang Telah Baligh Untuk Menjadikan Hubungan Mahram atau Saudara Se-Persusuan - Banyaknya kekeliruan terjadi antara para mukmin yang menyatakan membolehkan menyusui orang yang telah "BALIGH" untuk menjadikan hubungan Se-Persusuan ini dikarenakan hanya berlandaskan Dalil yang lemah.

Disini akan kita ulas beberapa Hadits yang menjadi Dalil dalam menetapkan hukum tersebut, dan melakukan perbandingan antara Dalil tersebut, yang menjadi sebab musabab kekeliruan dalam membolehkan menyusui seseorang yang telah "BALIGH" untuk menjadikan hubungan se-persusuan.

Ada 2 (Dua) Dalil berdasarkan Hadits sebagai berikut:

DALIL PERTAMA (Yang Mengakibatkan Kekeliruan):

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ اُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَتْ اُمُّ سَلَمَةَ لِعَائِشَةَ: اِنَّهُ يَدْخُلُ عَلَيْكِ اْلغُلاَمُ اْلاَيْفَعُ الَّذِى مَا اُحِبُّ اَنْ يَدْخُلَ عَلَيَّ؟ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اَمَا لَكِ فِى رَسُوْلِ اللهِ ص اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ؟ وَ قَالَتْ: اِنَّ امْرَأَةَ اَبِى حُذَيْفَةَ قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ سَالِمًا يَدْخُلُ عَلَيَّ وَ هُوَ رَجُلٌ وَ فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْهُ شَيْءٌ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَرْضِعِيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْكِ. احمد و مسلم
Dari Zainab binti Ummu Salamah, ia berkata : Ummu Salamah berkata kepada A’isyah, “Sesungguhnya ada seorang yang sudah baligh keluar-masuk ke (rumah)mu yang aku sendiri tidak menyukai ia masuk (rumah)ku”. Lalu Aisyah menjawab, “Tidakkah pada diri Rasulullah SAW ada suri teladan yang baik bagimu ?”. Dan ‘Aisyah berkata (lagi) : Sesungguhnya istri Abu Hudzaifah pernah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Salim keluar masuk (rumah)-ku, sedang ia kini telah dewasa sedangkan pada diri Abu Hudzaifah ada sesuatu terhadapnya, yang demikian itu bagaimana ?”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Susuilah ia, sehingga ia (boleh) keluar masuk (rumah)mu”. (HR. Ahmad dan Muslim).

و فى رواية عَنْ زَيْنَبَ عَنْ اُمِّهَا اُمِّ سَلَمَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: اَبَى سَائِرُ اَزْوَاجِ النَّبِيِّ ص اَنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ اَحَدًا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ وَ قُلْنَ لِعَائِشَةَ: مَا نَرَى هذَا اِلاَّ رُخْصَةً اَرْخَصَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص لِسَالِمٍ خَاصَّةً، فَمَا هُوَ بِدَاخِلٍ عَلَيْنَا اَحَدٌ بِهذِهِ الرَّضَاعَةِ، وَ لاَ رَائِيْنًا. احمد و مسلم و النسائى و ابن ماجه
Dan dalam riwayat lain dari Zainab dari Ibunya (yaitu) Ummu Salamah, bahwa sesungguhnya Ummu Salamah berkata : Seluruh istri-istri Nabi SAW menolak keluar-masuk (rumah) mereka dengan (cara) susuan seperti itu, dan mereka (juga) pernah menyanggah ‘Aisyah, “Tidakkah engkau tahu, bahwa itu hanya suatu keringanan yang dikhususkan oleh Rasulullah SAW buat Salim saja ?. Maka tidaklah seseorang (boleh) masuk (rumah) kami dengan susuan seperti itu dan (juga) tidak (boleh) melihat kami”. (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ اِلَى النَّبِيِّ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنِّى اَرَى فِى وَجْهِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُوْلِ سَالِمٍ (وَ هُوَ حَلِيْفُهُ). فَقَالَ النَّبيُّ ص: اَرْضِعِيْهِ. قَالَتْ: وَ كَيْفَ اُرْضِعُهُ وَ هُوَ رَجُلٌ كَبِيْرٌ؟ فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ قَالَ: قَدْ عَلِمْتُ اَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيْرٌ. مسلم
Dari ‘Aisyah, ia berkata : Sahlah binti Suhail (istri Abu Hudzaifah) datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku melihat perubahan wajah Abu Hudzaifah berkenaan dengan keberadaan Salim di rumah kami, bagaimanakah yang demikian itu ?”. (Salim adalah anak angkatnya). Nabi SAW bersabda, “Susuilah dia !”. Sahlah berkata, “Bagaimana aku menyusuinya sedangkan dia adalah seorang laki-laki yang sudah besar ?”. Maka Rasulullah SAW tersenyum lalu bersabda, “Aku tahu dia itu seorang laki-laki yang sudah besar”. (HR. Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ سَالِمًا مَوْلَى اَبِى حُذَيْفَةَ كَانَ مَعَ اَبِى حُذَيْفَةَ وَ اَهْلِهِ فِى بَيْتِهِمْ. فَاَتَتْ (تَعْنِى اِبْنَةَ سُهَيْلٍ) النَّبِيَّ ص، فَقَالَتْ: اِنَّ سَالِمًا قَدْ بَلَغَ مَا يَبْلُغُ الرِّجَالُ، وَ عَقَلَ مَا عَقَلُوْا، وَ اِنَّهُ يَدْخُلُ عَلَيْنَا وَ اِنِّى اَظُنُّ اَنَّ فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ مِنْ ذلِكَ شَيْئًا. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ ص: اَرْضِعِيْهِ، تَحْرُمِى عَلَيْهِ وَ يَذْهَبِ الَّذِى فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ. فَرَجَعَتْ، فَقَالَتْ: اِنِّى قَدْ اَرْضَعْتُهُ، فَذَهَبَ الَّذِى فِى نَفْسِ اَبِى حُذَيْفَةَ. مسلم
Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya Salim bekas budaknya Abu Hudzaifah ikut bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya di rumah mereka. Lalu istri Abu Hudzaifah (anak perempuan Suhail), datang kepada Nabi SAW, dan berkata, “Sesungguhnya Salim telah baligh, dan akalnya pun sebagaimana pada umumnya orang dewasa. Dan dia berada di rumah kami. Sedangkan aku menyangka bahwa pada diri Abu Hudzaifah ada sesuatu (kecemburuan) berkenaan dengan hal itu, bagaimanakah yang demikian itu ?”. Nabi SAW bersabda kepadanya, “Susuilah dia, maka kamu menjadi haram kepadanya dan akan hilanglah sesuatu yang ada pada diri Abu Hudzaifah”. Lalu Sahlah pulang. Kemudian ia berkata, “Sungguh aku telah menyusuinya”. Maka hilanglah sesuatu yang ada pada diri Abu Hudzaifah. (HR. Muslim).

عَنْ اُمِّ سَلَمَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ اِلاَّ مَا فَتَقَ اْلاَمْعَاءَ فِى الثَّدْيِ، وَ كَانَ قَبْلَ اْلفِطَامِ. الترمذى و صححه
Dari Ummu Salamah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram melainkan susuan yang memberi bekas pada perut dengan susuan itu, dan hal itu terjadi pada waktu anak tersebut belum disapih”. (HR. Tirmidzi dan ia mengesahkannya).

KETERANGAN DALIL PERTAMA (Yang Mengakibatkan Kekeliruan):

  1. Berdasarkan Dalil dari hadits-hadits yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa diperbolehkan menyusui orang yang sudah baligh jika kasusnya sama seperti salim, karena Salim telah menjadi Budak Abu Hudzaifah. "Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya Salim bekas budaknya Abu Hudzaifah ikut bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya di rumah mereka."
  2. Lalu Sahlah, Istri Abu Hudzaifah melihat kecemburuan pada diri Abu Hudzaifah terhadap Salim yang keluar masuk rumahnya. "Sesungguhnya Salim telah baligh, dan akalnya pun sebagaimana pada umumnya orang dewasa. Dan dia berada di rumah kami. Sedangkan aku menyangka bahwa pada diri Abu Hudzaifah ada sesuatu (kecemburuan) berkenaan dengan hal itu, bagaimanakah yang demikian itu ?"
  3. Kemudian Rasulullah memerintahkan Sahlah untuk menyusui Salim agar hilang kecemburuan pada diri Abu Hudzaifah dan maka menjadi Haramlah bagi Salim untuk berpikiran sesuatu yang tidak pantas kepada Sahlah dan juga Anak-anak perempuannya (Menjadi Mahram). "Susuilah dia, maka kamu menjadi haram kepadanya dan akan hilanglah sesuatu yang ada pada diri Abu Hudzaifah”. Lalu Sahlah pulang. Kemudian ia berkata, “Sungguh aku telah menyusuinya”. Maka hilanglah sesuatu yang ada pada diri Abu Hudzaifah"
  4. Namun berdasarkan keterangan Ummu Salamah, Rasulullah mengatakan bahwa menyusui seseorang tidak dapat menjadikan hubungan Mahram, jika susuan tersebut tidak dapat mengenyangkan perut dan hal tersebut berlaku pada saat anak belum lepas susu. "Dari Ummu Salamah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram melainkan susuan yang memberi bekas pada perut dengan susuan itu, dan hal itu terjadi pada waktu anak tersebut belum disapih"

SIMPULAN DALIL PERTAMA (Yang Mengakibatkan Kekeliruan):

Berdasarkan Dalil pertama ada beberapa pendapat orang mukmin yang membolehkan. Namun dalam memutuskan hukum dalam Islam tidak cukup hanya dengan satu kajian saja dan namun lagi Dalil pertama ini Lemah untuk dapat menentukan Hukum secara tepat (Secara Syariat Sangat Bertentangan).

DALIL KEDUA:

عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ مَا كَانَ فِى اْلحَوْلَيْنِ. الدارقطنى
Dari Ibnu ‘Uyainah dari ‘Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Tidak ada susuan melainkan yang berlangsung dalam (usia) dua tahun”. (HR. Daruquthni).

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ رَضَاعَ اِلاَّ مَا اَنْشَزَ اْلعَظْمَ وَ اَنْبَتَ اللَّحْمَ. ابو دتود
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada penyusuan melainkan apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging”. (HR. Abu Dawud).

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لاَ رَضَاعَ بَعْدَ فِصَالٍ وَ لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ. ابو داود و الطياليسى فى مسنده
Dari Jabir dari Nabi SAW, ia berkata, “Tidak ada susuan sesudah disapih dan tidak ada yatim sesudah baligh”. (HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam musnadnya).

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ عِنْدِى رَجُلٌ فَقَالَ: مَنْ هذَا؟ قُلْتُ: اَخِى مِنَ الرَّضَاعَةِ. قَالَ: يَا عَائِشَةُ اُنْظُرْنَ مِنْ اِخْوَانِكُنَّ، فَاِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ اْلمَجَاعَةِ. الجماعة الا الترمذى
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah masuk rumahku, sedang di sisiku ada seorang laki-laki, kemudian beliau bertanya, “Siapa dia ini ?”. Aku menjawab, “Saudaraku sepesusuan”. Beliau bersabda, “Hai ‘Aisyah, perhatikanlah saudara-saudaramu, karena sebenarnya radla’ah (susuan yang dianggap) itu ialah (susuan yang dapat menutup) rasa lapar”. (HR. Jamaah kecuali Tirmidzi).

KETERANGAN DALIL KEDUA:

  1. Tidak ada arti sepersusuan kecuali untuk seorang anak dibawah usia 2 tahun. "Tidak ada susuan melainkan yang berlangsung dalam (usia) dua tahun"
  2. Dan tidak ada istilah sepersusuan jika ASI tersebut tidak dapat mengeyangkan perut. "Tidak ada penyusuan melainkan apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging"
  3. Tidak ada istilah sepersusuan atau menyusui yang ditujukan pada orang yang sudah "BALIGH" dan tidak pula dapat menjadikan hubungan Mahram. "Tidak ada susuan sesudah disapih dan tidak ada yatim sesudah baligh"
  4. Tidak ada istilah sepersusuan bagi seseorang jika ASI tersebut tidak dapat mengeyangkan perut dan menghilangkan rasa lapar, dan tidak pula dapat menjadikan hubungan Mahram. "Hai ‘Aisyah, perhatikanlah saudara-saudaramu, karena sebenarnya radla’ah (susuan yang dianggap) itu ialah (susuan yang dapat menutup) rasa lapar"

SIMPULAN DALIL KEDUA:

Tidak ada istilah sepersusuan bagi orang yang menyusu setelah "BALIGH", dan tidak pula dapat menjadikan hubungan Mahram ataupun Se-Persusuan. Karena jelas berdasarkan keterangan telah saya paparkan berdasarkan Dalil tersebut, tidaklah mungkin orang yang telah "BALIGH" dapat kenyang dan hilang rasa laparnya karena hanya meminum ASI. Terkecuali seseorang itu masih seorang Anak di bawah usia 2 Tahun (Bayi).

KESIMPULAN KEDUA DALIL:

Jelas bahwa Dalil Kedua lebih diterima dibanding Dalil Pertama, karena Dalil Kedua juga sesuai  dengan Firman Allah:

 وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Baqarah : 233).

SEHINGGA:
  1. Jelaslah tidak ada seseorang yang telah "BALIGH" dapat hilang rasa laparnya hanya karena meminum ASI.
  2. Tidaklah mungkin dilakukan sesuatu hal yang jelas menentang Norma kesusilaan didalam Islam, karena terjadi hubungan kontak fisik antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan Mahramnya dan juga tidak ada hubungan pernikahan (Sedangkan Bertatap Mata Saja Dengan Lawan Jenis Yang Bukan Mahram dan Tanpa Hubungan Pernikahan Dalam Islam Termasuk Zina).
  3. Orang dewasa tetaplah berpikir layaknya orang dewasa, dan tidak mungkin disamakan dengan seorang Bayi.
  4. Maka tidak dapatlah seorang yang telah "BALIGH" menyusui orang yang telah "BALIGH" untuk menjadikan Mahram dan hubungan Se-Persusuan, jelaslah Secara norma ini tidak lazim.

Posting Komentar untuk "Kekeliruan Memperbolehkan Menyusui Seseorang Yang Telah Baliq Untuk Menjadikannya Mahram. Ini Penjelasannya. "